Kamu datang
membawa sejuta harapan, memberi warna dikehidupanku. Kamu datang menghangatkan hatiku dengan
sesuatu yang indah bernama cinta. Aku bahagia. Aku merasa nyaman oleh sosokmu
yang memanjakanku. Tatapanmu yang meneduhkan. Hingga aku menyadari bahwa cinta itu tak
selalu soal airmata.
Hari demi
hari kita lewati bersama, menggoreskan kisah indah didalamnya. Menjadikan
setiap hari hanyalah kenangan manis, kenangan antara aku dan kamu, kenangan
kita, tanpa ada airmata. Kehadiranmu begitu menyempurnakanku.
Awalnya
memang terasa indah. Tindakan – tindakan ajaibmu yang membuatku merasa
istimewa, perhatian – perhatian kecilmu membuatku sangat berharga, pesan –
pesan singkatmu yang mampu membuatku
tersenyum sendiri, dan sapaan lembut dipagi hari saat kubuka mata dan dimalam
hari ketika aku ingin beranjak tidur adalah hal yang paling aku nantikan
disetiap harinya. Tak butuh alasan banyak untuk menggilaimu . Aku tidak ingin
kamu berubah. Aku ingin kamu tetap seperti itu. Aku semakin takut
kehilanganmu.
Tapi perlahan
seiring waktu yang terus berjalan aku merasakan ada yang berbeda, perhatianmu
tidak lagi sama, pesan – pesan singkatmu tidak sesering dulu. Tingkahmu itu
begitu mengganggu pikiranku. Tapi aku berusaha bersikap baik – baik saja,
bersikap seperti biasa ketika bertemu. Tetapi sikapmu acuh tak acuh padaku. Kamu
lebih banyak berdiam diri, menanggapi sekedarnya candaanku.
Semakin hari
semakin aku rasakan perubahanmu, sapaan hangatmu, perhatian kecilmu, tawa
renyahmu perlahan memudar. Tapi aku berusaha menyangkalnya bahwa tidak terjadi
apa – apa padamu. Aku masih menunjukkan perhatian terbaikku, meski tanggapanmu
biasa saja bahkan tidak ada sama sekali. Menyakitkan? Iya. Aku hanya tidak
ingin egois, bukankah harus ada salah satu dari kita yang harus mengalah? Aku
hanya ingin mempertahankanmu.
Mempertahankan kita. Walaupun terasa menyakitkan bahwa hanya satu pihak yang
berusaha bertahan. Aku hanya ingin menunjukkah bahwa aku mampu menjadi kekasih
terbaikmu
Semua telah
berubah, begitupun kamu. Begitupun hubungan kita. Dan akhirnya perpisahanpun
terjadi, sesuatu yang begitu menyakitkan untukku. Sesuatu yang selalu dengan
susah payah aku hindari. Namun tidak begitu denganmu. Ya, karena kamu telah
menemukan sosok baru untuk kebahagianmu. Wanita yang mungkin jauh lebih
sempurna dariku. Betapa aku sangat ingin memungkiri kenyataan itu. Kamu tidak
tahu kan rasanya jadi aku?
Banyak janji
kebahagian yang kamu bisikkan manja ditelingaku. Kamu pernah berjanji akan
menutup akhir kisah cintaku dengan indah. Tapi kenyataannya sekarang? Kamu
pergi ketika aku begitu sangat menggilaimu. Aku benci harus mengakui ini, Aku
merasa begitu kehilangan. Sangat. Aku terlanjur terbiasa dengan kehadiranmu.
Aku tidak
minta banyak hal padamu, tapi bisakah bantu aku untuk memudahkan melupakan
sosokmu, Sayank?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar