Jumat, 06 September 2013

Kamu Sudah Memilih






Hidup ini sebenarnya indah. Aku percaya pada adanya bermacam-macam ujian dalam hidup merupakan sebuah kebahagiaan yang tertunda. Kamu akan diuji seberapa tegar perasaanmu sebelum kamu dianugerahi kebahagiaan yang mungkin lebih dari apa yang kamu harapkan. Kita hanyalah manusia biasa yang serba terbatas tidak tahu seperti apa hidup ke depannya. Kita hanya bisa menyiapkan diri untuk menghadapi kejutan - kejutan tak terduga di dalamnya. Kejutan yang kadang tidak bersahabat denganmu dan seringkali dipenuhi airmata dan rasa sakit. Tapi sekali lagi, kejutan itu hanyalah jalan menuju sebuah kebahagiaan yang sebenarnya. 

Aku (harus) percaya itu. Jujur itu adalah salah satu alasan untukku bisa bangkit dari rasa sakit ini. Rasa sakit yang tercipta ketika kamu memutuskan untuk pergi. Mengakhiri segala rencana yang sudah tersusun sempurna. Pernikahan. Entah bagaimana lagi aku bisa menjelaskan rasa yang hadir saat ini ketika kamu memutuskan untuk pergi dan aku tak punya kekuatan lagi untuk tetap menahanmu bersamaku.

***
“ Maafkan aku.  Aku ingin pesta pernikahan kita dibatalkan.” Kamu menggenggam tanganku dan menatap jauh ke dalam mataku mungkin berusaha mencari ketegaran di sana.

“Maksudmu apa?”

“Maaf aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita”

“ Kamu menyuruhku datang ke tempat ini hanya untuk membuatku hancur?” Suaraku agak bergetar menahan emosi. Ini sungguh terdengar aneh bagiku, bagaimana mungkin rencana pernikahan yang telah kami atur dengan sempurna berbulan – bulan ini bisa hancur dalam beberapa detik saja.

“Maafkan aku, ini diluar prediksiku.  Percayalah kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari pada aku. Tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar.”

“Aku sungguh tidak mengerti apa yang kamu inginkan”

“ Aku sudah menemukan tulang rusukku yang hilang, dan itu bukan kamu. Aku benar-benar tidak berniat membuatmu kecewa”

 “ Kamu egois. Semudah itu kamu mengakhiri segalanya. Empat hari lagi kita akan menikah bagaimana dengan undangan yang sudah tersebar dan  juga dengan keluargaku?  Dengar ini bukan hanya antara aku dan kamu saja, tapi ini juga antara keluargaku dan juga keluargamu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan kami?“ Aku tidak bisa menahan lagi emosiku. Airmata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga.

“Maafkan aku. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita kalau rasa cintaku padamu tak sebesar dulu lagi. Aku tidak tahu, perlahan rasa cinta itu kian memudar.  Dan aku tidak bisa menolak hadirnya cinta lain yang melebihi rasa cintaku padamu”.

Kamu memelukku lama. Seolah dengan sebuah pelukanmu itu semuanya akan baik-baik saja.  Rasa sakit ini tidak akan pernah kamu mengerti . Entah, aku belum bisa menemukan kata – kata yang tepat untuk menjelaskan perasaanku.  Mungkin hanya lewat airmata ini yang sedikit bisa melegakan rasa sesak yang sudah memenuhi sudut hati. Aku berusaha tegar dan memang harus seperti itu. Untuk apa berlarut – larut dalam kesedihan untuk seseorang yang cintanya saja telah hilang untukmu.

“ Jalani saja apa yang menurutmu benar, dan perjuangkan apa yang patut diperjuangkan. Aku tak punya kendali atas rasamu. Ini mungkin adalah salah satu takdirku, takdir yang membuatku dalam beberapa waktu ini merasa luar biasa bahagia bersamamu, tapi dalam beberapa detik saja mampu membuatku begitu hancur. Demi Tuhan, aku akan belajar mengikhlaskanmu. Aku akan belajar melepaskanmu secepat kamu melepasku”.

Aku meninggalkanmu begitu saja tanpa pernah ingin menengok kembali ke belakang.  Aku harus melupakanmu dan semua kenangan antara kita. Meski aku rasa sangat indah dan bermakna tapi sudah saatnya dilupakan. Aku harus terbiasa tanpa kamu. Sekarang dan untuk seterusnya. Kamu sudah menemukan tulang rusukmu jadi, selamat berbahagia.



Tidak ada komentar: